Peusijuek dan Ratoh Duek: Tradisi Aceh Utara yang Masih Hidup di Lhoksukon
Peusijuek dan Ratoh Duek masih hidup di Lhoksukon, Aceh Utara. Tradisi tepung tawar dan seni tutur ini hadir di acara keluarga hingga hajatan kampung.

Sorotan Utama
- Peusijuek adalah tradisi tepung tawar khas Aceh untuk menandai momen penting seperti pernikahan, kelahiran, dan kepulangan haji.
- Ratoh Duek adalah seni tutur Aceh berupa syair berbahasa Aceh yang dilantunkan bersama gerakan tangan berirama.
- Lhoksukon adalah ibu kota Kabupaten Aceh Utara, tempat kedua tradisi ini masih dipraktikkan di tingkat keluarga dan kampung.
- Pelaksanaan peusijuek biasanya dipandu tetua atau tokoh agama setempat dengan bahan sederhana seperti beras, tepung, dan daun.
- Ratoh Duek kerap tampil di acara hajatan, pernikahan, dan kegiatan budaya di Aceh Utara sebagai hiburan bernuansa dakwah.
Tepung Tawar di Ruang Tamu
Di sebuah rumah sederhana di Gampong Cot Girek, Lhoksukon, sore itu berbau harum daun pandan. Seorang tetua duduk bersila, mencelupkan tangan ke mangkuk berisi tepung dan beras, lalu mengusapkannya ke dahi sepasang pengantin baru. Mulut tetua itu bergumam doa dalam bahasa Aceh, disambut anggukan keluarga yang duduk melingkar. Itulah peusijuek, tradisi tepung tawar yang masih dirawat warga Lhoksukon hingga kini.
Peusijuek bukan pertunjukan. Ia bagian dari urusan keluarga: menandai pernikahan, kelahiran anak, kepulangan dari tanah suci, hingga syukuran rumah baru. Bahan yang dipakai sederhana, beras, tepung, daun pandan, dan air dalam mangkuk. Tetua atau tokoh agama setempat memandu prosesi, sementara keluarga menyaksikan dengan khidmat. Di Lhoksukon, ibu kota Kabupaten Aceh Utara, praktik ini masih mudah ditemui di kampung-kampung sekitar pusat kecamatan.
Yang membuat peusijuek bertahan adalah posisinya sebagai penanda momen, bukan sekadar upacara. Warga yang hendak menikahkan anak biasanya menghubungi tetua beberapa hari sebelumnya. Mereka menyiapkan bahan bersama, lalu duduk melingkar. Tidak ada panggung, tidak ada tiket. Semua berlangsung di ruang tamu atau halaman rumah.
Ratoh Duek, Syair yang Diikuti Tangan
Malam berikutnya, di halaman sebuah balai pertemuan di Lhoksukon, sekelompok pria duduk bersila membentuk lingkaran. Satu orang mulai melantunkan syair berbahasa Aceh. Yang lain mengikuti, tangan mereka bergerak seirama, menepuk paha, lalu bertepuk. Itulah ratoh duek, seni tutur Aceh yang memadukan syair, irama, dan gerak tubuh.
Ratoh duek bukan tarian bebas. Ia terikat pola: syair dilantunkan bergantian, gerakan tangan mengikuti tempo, dan isi syair biasanya berisi nasihat, kisah keagamaan, atau sindiran sosial. Di Aceh Utara, termasuk Lhoksukon, ratoh duek kerap tampil di acara hajatan, pernikahan, dan kegiatan budaya. Kelompoknya biasanya dibentuk dari warga kampung sendiri, bukan tim profesional yang didatangkan dari luar daerah.
Pemain ratoh duek di Lhoksukon umumnya belajar dari tetua. Tidak ada sekolah formal untuk seni ini. Seorang anak muda yang tertarik biasanya bergabung dengan kelompok kampung, menonton latihan, lalu perlahan ikut melantunkan syair. Prosesnya lambat, tetapi itulah cara ratoh duek bertahan: dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, di ruang-ruang pertemuan warga.
Antara Warisan dan Kesibukan Harian
Lhoksukon sebagai ibu kota kabupaten membuat ritme warganya lebih sibuk dibanding kampung pesisir. Pusat pemerintahan, pasar, dan sekolah berkumpul di sini. Namun tradisi seperti peusijuek dan ratoh duek tetap punya tempat, terutama di momen keluarga dan kegiatan kampung.
Tantangannya nyata. Anak muda Lhoksukon kini tumbuh dengan gawai dan hiburan digital. Belajar syair ratoh duek butuh waktu dan kesabaran, sementara tawaran hiburan lain datang lebih cepat. Peusijuek juga menghadapi geseran: sebagian keluarga memilih prosesi singkat karena kesibukan kerja.
Meski begitu, kedua tradisi ini belum hilang. Di beberapa gampong, kelompok ratoh duek masih aktif tampil saat hajatan. Peusijuek masih dipandu tetua di rumah-rumah warga. Yang menjaga bukan lembaga besar, melainkan keluarga dan kampung. Selama momen seperti pernikahan dan kelahiran masih dirayakan, ruang bagi peusijuek dan ratoh duek tetap ada di Lhoksukon.
Bagi warga yang ingin menyaksikan, cara paling mudah adalah hadir di acara hajatan kampung atau bertanya kepada tetua gampong. Tidak ada jadwal tetap, karena kedua tradisi ini hidup mengikuti ritme kehidupan warga, bukan kalender acara.
Pertanyaan Umum
Apa itu peusijuek?
Peusijuek adalah tradisi tepung tawar khas Aceh untuk menandai momen penting seperti pernikahan, kelahiran, dan kepulangan haji. Prosesi dipandu tetua atau tokoh agama dengan bahan sederhana seperti beras, tepung, dan daun pandan.
Apa itu ratoh duek?
Ratoh duek adalah seni tutur Aceh berupa syair berbahasa Aceh yang dilantunkan bersama gerakan tangan berirama. Isinya biasanya nasihat, kisah keagamaan, atau sindiran sosial.
Apakah peusijuek dan ratoh duek masih ada di Lhoksukon?
Masih. Peusijuek dipraktikkan di rumah-rumah warga saat acara keluarga, sementara ratoh duek tampil di hajatan dan kegiatan budaya kampung di Lhoksukon, Aceh Utara.
Bagaimana cara menyaksikan ratoh duek di Lhoksukon?
Tidak ada jadwal tetap. Cara paling mudah adalah hadir di acara hajatan kampung atau bertanya kepada tetua gampong setempat.